Sepatu dan Sandal Batik dari Alumni ITB

Dari rasa dan keinginan untuk mengubah persepsi batik yang hanya untuk orang tua dan dipakai pada acara resmi, Agnes Tanida membuka usaha beberapa produk batik dengan nama Kulkith pada pertengahan tahun 2009. Mahasiswi Jurusan Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini memang sengaja menerapkan batik sebagai bahan utama produknya dengan tujuan agar nantinya banyak kaum remaja mau menghargai dan mencintai batik sebagai warisan budaya Indonesia.

Pada awalnya, Kulkith menghadirkan jaket batik . Produk yang dibuat Agnes Tanida ini tentunya merupakan sebuah langkah besar dalam mendobrak tren fashion saat itu. Jaket batik kala itu memang dianggap bertentangan dengan selera pasar yang masih lebih banyak menawarkan jaket kulit dan jaket jeans dan beberapa jenis jaket lain. Namun dengan sebuah keyakinan, jaket batik dari Kulkith ini mendapatkan respon yang cukup postif meski awalnya datang dari teman-temanya sekampus Agnes.

Teman-teman Agnes sendiri memang banyak yang memesan jaket batik dengan capuchon yang kedua sisinya bisa dipakai bergantian. Dari jaket batik ini Agnes merasa bahwa ada peluang besar untuk mengembangkan batik secara lebih luas

Berdasarkan keyakinannya pada peluang produk batik, maka Agnes pun mengembangkan produk Kulkith ke beberapa produk lainnya. Dari limbah kain sisa pembuatan jaket batik ini kemudian Agnes memanfaatkannya untuk membuat sepatu dan sandal batik. Dipilihnya produk sandal dan sepatu ini dikarenakan produk ini hanya membutuhkan kain batik yang tidak terlampau banyak.

Untuk memproduksi sepatu dan sandal batik sendiri Agnes merasa diuntungkan karena bisa mendapatkan penjahit yang bagus di Bandung. Ditambah serta didukung dengan ilmu seni rupa dan desain yang dimilikinya, membuat Agnes semakin percaya diri dan semangat untuk mengembangkan sepatu dan sandal batik yang sesuai model yang sedang tren dan digemari anak muda.

Dalam mengembangkan produk Kulkith ini, ada tantangan yang harus dihadapi Agnes yaitu menyesuaikan dengan selera pasar. Cara yang dilakukan Agnes dalam menyesuaikan Kulkith dengan selera pasar adalah dengan membuat model serupa, termasuk meniru sepatu boot ala Dr Martin. Inti dari menghadapi tantangan ini bagi Agnes adalah dengan terus menggali dan mengembangkan kreativitas dan inovasi. Maka dari itu setiap menciptakan produk batik Kulkith, Agnes selalu melihat selera pasar anak muda terlebih dahulu. Maka dari sini Agnes punseringkali bergelut dengan ide-ide yang tak umum seperti memadukan corak batik dengan kulit sintetis.

Pemasaran Kulkith sendiri awalnya dilakukan melalui online. Pemasaran melalui Facebook ini dilakukan Agnes saat itu karena modalnya sangat terbatas. Dengan promosi via Facebook yang gratis ini memang Agnes bisa menekan ongkos marketing. Untuk pembelian sendiri konsumen diharuskan melakukan pemesanan terlebih dahulu untuk nantinya dibuatkan produknya dan tentunya proses pembayaran sebelum barang dikirim. Selain pemasaran via Facebook, Kulkith kemudian juga dipasarkan lewat blog dengan cara memanfaatkan para blogger untuk mempromosikan produknya. Jadi para blogger ini diminta oleh Agnes untuk mengulas produknya di blog mereka untuk tujuan promosi dan marketing dunia maya.

Dari semua usaha yang dilakukan Agnes ini maka kini produk batik Kulkith bisa dikatakan telah sukses di pasaran. Selain telah mampu membuka toko fisik di Bandung, Agnes juga telah mampu memasarkan Kulkith hingga pasar luar negeri yaitu Malaysia dan Belanda. Pencapaian Kulkith ini semakin nyata ketika omzet usahanya telah mencapai Rp 50 juta per bulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *