Batik Sudagaran, Antara Larangan dan Kreativitas

Batik Sudagaran merupakan batik yang lahir akibat penekanan aturan-aturan yang diterapkan oleh keraton pada zaman dulu. Terdapat peraturan yang mengatakan bahwa batik dengan motif tertentu hanya bisa digunakan oleh kalangan bangsawan kraton dan penghuninya. Hal ini sebagai bentuk pembeda antara warga keraton dengan warga biasa. Batik ini disebut batik larangan. Batik yang dilarang dipakai oleh orang lain selain warga keraton.

Hal tersebut membuat para saudagar pada masa itu tidak berhenti begitu saja. Batik adalah warisan budaya, tanpa melanggar peraturan, maka dibuatlah batik yang tidak mengikuti batik larangan. Batik dengan pola larangan dengan perubahan-perubahan. Tentunya di awal perkembangannya batik ini menerapkan konsep pola larangan yang diberikan keraton tapi dengan beberapa modifikasi. Sehingga di dalam motif batik ini masih ada pengaruh dari keraton. Karena batik ini dibuat oleh para saudagar, maka batik ini disebut dengan batik sudagaran.

Para saudagar membuat batik ini disesuaikan dengan selera masyarakat pada masa itu. Mereka menggunakan pola yang lebih rumit serta isen-isen yang lebih banyak dan rapat. Batik sudagaran ini mendapatkan banyak pengaruh dari luar keraton juga. Misalnya dari para pedagang China, Arab atau dari penduduk Belanda yang pada saat itu menempati wilayah tersebut. Hal ini membuat pola larangan menjadi lebih kaya dan lebih rumit. Sehingga potensi batik sudagaran ini semakin besar untuk bisa dikenakan secara luas oleh masyarakat karena keindahan dan kerumitannya.

Dari segi warna, warna yang digunakan cenderung umum seperti warna soga (coklat) atau biru tua. Namun yang membedakan adalah penggunaan warnanya yang mencolok dan berbeda dengan batik keraton. Sehingga lebih mudah dikenali. Motif yang digunakan ada berbagai macam.

Di awal pengembangannya, batik ini cenderung memodifikasi motif yang sudah ada, seperti mengganti latar belakang kain dengan titik-titik yang disusun rapi (cecek), atau menyisipkan motif bunga, rangkaian bunga pada motif parang, sehingga lebih berwarna. Ada motif parang lain yang disisipi titik yang terkenal dengan istilah nitik.

Bagaimana nasib batik Sudagaran kini? Temukan jawabannya di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *