Inilah Alasan Kenapa Batik Pesisir Punya Motif Unik

Batik Indonesia mencerminkan keterbukaan terhadap berbagai budaya, baik itu budaya lokal, maupun budaya luar negeri yang berkembang di Indonesia. Percampuran budaya kerap terlihat dalam berbagai kesenian di Indonesia. Begitupula dalam batik. Motif batik Indonesia menampilkan keanekaragaman budaya berbagai bangsa.

Jika Batik Pedalaman adalah batik tradisional, Batik Pesisiran menampilkan berbagai pengaruh budaya luar negeri. Hal ini disebabkan banyaknya pendatang asing di wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Di sana, batik banyak disukai dan berkembang menjadi salah satu unggulan dalam perdagangan.

Kaum pedagang dari India dan Arab, masyarakat keturunan Tionghoa, hingga Belanda dan Jepang yang pernah menjajah Indonesia banyak menetap di daerah pesisiran dan berdagang batik. Beberapa bangsa menularkan motif khas bangsanya, beberapa menjadi pengusaha batik dan menampilkan motif khas budaya asalnya. Area Pesisiran adalah bejana pencampuran (melting pot) berbagai macam budaya.

Faktor perdagangan sangat mempengaruhi keanekaragaman motif batik. Batik komersil dibuat semenarik mungkin sesuai dengan selera pasar, sehingga bermunculan tren motif baru yang kemudian berkembang menjadi banyak variasi. Hal tersebut juga memberi pengaruhi pada warna dalam Batik. Penggunaan warna sintetis pada awal 1900-an membuat batik pesisir menjadi beraneka warna, cerah, dan menampilkan warna-warna baru yang semula tidak terimplementasikan dalam batik.

Perkembangan batik paling mencolok di area pesisir adalah sekitar tahun 1840 – 1945. Sebelumnya, kebanyakan masyarakat, khususnya Indo-Eropa, sangat menyukai kain dari India. Hingga akhirnya seiring menurunnya tingkat impor kain India, kesukaan tersebut beralih ke Batik. Pengaruh India sangat mencolok tampil dalam motif batik. Batik mengimitasi motif sarasa atau sembagi dari Pantai Koramandel India, dan pola tenun ikat ganda Patola dari Gujarat India. Bahkan motif geometris Patola tersebut menjadi motif khas daerah Pekalongan dengan nama motif Jelamprang.

Pada perkembangannya, orang Belanda kemudian banyak yang menjadi pengusaha batik. Mereka mengembangkan motif-motif selera pasar Eropa seperti motif dongeng, motif kumpeni, motif natural (flora fauna), hingga akhirnya menampilkan motif yang sangat popular yaitu motif buketan. Beberapa nama pengusaha Batik Indo Belanda adalah Van Fronquemont, Von Oosterom, Metzelaar, hingga Eliza van Zuylen.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *