Batik Pedalaman, Kunci Lahirnya Peradaban Batik Indonesia

 

Batik sudah menjadi budaya bangsa Indonesia sejak berabad silam. Perkembangan batik paling banyak adalah di Pulau Jawa. Masyarakat membuat batik untuk memenuhi kebutuhan mereka akan pakaian. Pada awal perkembangan hanya dikenal satu teknik yaitu batik tulis. Pekerjaan membatik banyak dikerjakan kaum wanita, yang membatik disel-sela pekerjaannya sebagai petani dan mengurus rumah tangga.

Batik berkembang pesat di masyarakat hingga akhirnya masuk ke ranah Kerajaan. Kain-kain batik tradisional telah dipakai sejak zaman Kerajaan Majapahit hingga akhirnya mengalami perkembangan pesat pada zaman Kerajaan Mataram.

Batik-batik Kerajaan itu kemudian yang mempengaruhi perkembangan batik di masyarakat. Kerajaan / Keraton dianggap sebagai pusat kehidupan, salah satunya adalah sebagai pusat budaya. Sebagai pusat budaya, Keraton membentuk peraturan, nilai-nilai, moralitas, kearifan, hingga arah tujuan kehidupan baik di lingkup keraton maupun di masyarakat.

Batik Keraton

Batik Larangan Motif Parang Barong Ceplok Gurdo (Photo: Batik Indonesia : Mahakarya Penuh Pesona. Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad. Kakilangit Kencana, 2015)
Batik Larangan Motif Parang Barong Ceplok Gurdo (Photo: Batik Indonesia : Mahakarya Penuh Pesona. Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad. Kakilangit Kencana, 2015)

Batik Pedalaman, atau juga dikenal sebagai Vorstenlanden, yang berkembang di Yogyakarta dan Surakarta bermuara pada Kerajaan Mataram. Kerajaan Mataram berkembang hingga pertengahan abad 18, dan mengalami perpecahan pada tahun 1755 menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Pada masa itu, Keraton adalah pusat budaya. Keraton sangat berpengaruh dalam perkembangan batik baik didalam keraton maupun di masyarakat.

Keraton mengeluarkan aturan tentang cara pemakaian batik, kapan menggunakan, siapa yang dapat menggunakan, motif-motif mana yang disakralkan dan hanya boleh dipakai oleh kalangan Keraton tertentu. Ketatnya aturan tersebut karena batik mempunyai motif yang sarat akan makna.

Simbol-simbol tradisional yang ditampilkan mempunyai arti, nilai, cerita, norma, harapan, dan moralitas yang dipercaya mempengaruhi kehidupan manusia. Jadi tidak boleh dipakai sembarangan.

Ada dikenal istilah motif larangan, motif yang hanya boleh dipakai oleh keluarga raja, misalnya motif parang Rusak, Udan Liris, Cemukiran, Purba Negara, Semen Gurdha, dan lainnya. Aturan ditetapkan untuk menentukan siapa yang boleh memakai batik tertentu, misalnya Parang Barong hanya boleh dipakai Raja, sedangkan Parang Khlitik dipakai abdi dalem (servants). Begitu pula dengan waktu pemakaian, motif kawung dapat dipakai untuk beberapa upacara seperti upacara kelahiran, sedangkan motif sidomukti untuk pernikahan, dan motif slobog untuk kematian.

Bagaimana dengan rakyat jelata? Apakah mereka tidak boleh memakai batik? Baca ulasannya di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *