Batik Bakaran yang Tidak di Bakar, Bagaimana Sejarahnya? (Bagian 2)

Motif khusus yang diciptakan Nyi Baneowati sendiri adalah motif gandrung. Motif itu terinspirasi dari pertemuan dengan Joko Pakuwon, kekasihnya, di tiras pandelikan. Waktu itu Joko Pakuwon berhasil menemukan Nyi Banoewati.

Kedatangan Joko Pakuwon membuat Nyi Banoewati yang sedang membatik melonjak gembira sehingga secara tidak sengaja tangan Nyi Banoewati mencoret kain batik dengan canting berisi malam, yang memang saat itu aktifitasnya disibukkan dengan membatik. Coretan itu membentuk motif garis-garis pendek. Di sela-sela waktunya, Nyi Banoewati menyempurnakan garis-garis itu menjadi motif garis silang yang melambangkan kegandrungan atau kerinduan yang tidak terobati.

Motif-motif khas itu perlu mendapat perlakuan khusus dalam pewarnaan. Pewarnanya pun harus menggunakan bahan-bahan alami. Misalnya, kulit pohon tingi yang menghasilkan warna coklat, kayu tegoran warna kuning, dan akar kudu warna sawo matang.

Dahulu, pewarna batik motif itu menggunakan bahan-bahan alami. Misalnya, kulit pohon tingi yang menghasilkan warna coklat, kayu tegoran untuk warna kuning, dan akar kudu sebagai pewarna sawo matang Penghormatan terhadap Nyi Ageng Bakaran hingga kini masih dilakukan, setiap tahun dilakukan upacara bersih desa dengan menanggap wayang kulit semalam suntuk.

Dan, yang lebih unik lagi bahwa setiap malam Jumat, masyarakat Bakaran ngalap berkah dengan cara berdoa di dekat sumur sumpah, yang telah ditutup, dengan bunga setaman dan membakar kemenyan. Hal itu bergiliran, seperti yang tampak pada malam lebaran itu. Warga hilir mudik hingga diri hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *