Batik Bakaran yang Tidak di Bakar, Bagaimana Sejarahnya? (Bagian 1)

Tidak banyak yang tahu soal batik Bakaran. Pamornya memang kalah tenar ketimbang batik Lasem, padahal letaknya sama-sama di sekitaran Pati dan Rembang. Batik bakaran ternyata punya catatan sejarah yang menarik.

Konon menurut cerita,di kerajaan mojopahit ada seorang abdi dalem keraton yang bertugas merawat gedung pusaka dan memiliki keahlian membatik yang bernama Nyai Banowati. Berbagai motif batik dibuatnya untuk keperluan gedung pusaka pada waktu itu.Ia datang ke Desa Bakaran untuk mencari tempat persembunyian karena dikejar-kejar prajurit Kerajaan Demak.

Saat itu, Kerajaan Majapahit yang diperintah Girindrawardhana yang bergelar Brawijaya VI (1478-1498) berada dalam desakan Kerajaan Demak yang menganut Islam. Sejumlah pengikut Brawijaya yang menganut Hindu-Buddha memilih hengkang dari Majapahit karena tidak mau masuk Islam.

Bersama tiga saudaranya, yaitu Ki Dukut, Kek Truno, dan Ki Dalang Becak, mereka menyusuri pantai utara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di Perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Nyi Banowati dan dua saudaranya berpisah dengan Ki Dalang Becak. Ia melanjutkan perjalanan hingga ke kawasan rawa-rawa yang penuh pohon druju atau sejenis semak berduri, sedang Ki Dalang Becak menetap di Tuban. Bersama Ki Dukut, Nyi Banowati membuka lahan di daerah rawa-rawa itu sebagai tempat tiras pendelikan atau tempat persembunyian.

Lantaran Ki Dukut seorang lelaki, ia mampu membuka lahan yang sangat luas, sedangkan lahan Nyi Banowati sempit. Tak kurang akal, Nyi Banowati mengadakan perjanjian dengan Ki Dukut. Ia meminta sebagian lahan Ki Dukut dengan cara menentukan batas lahan melalui debu hasil bakaran yang terjatuh di jarak terjauh. Ki Dukut menyetujui usulan itu. Jadilah kawasan Nyi Banowati lebih luas sehingga sebagian kawasan diberikan kepada Kek Truno yang tidak mau babat alas.

Daerah milik Nyi Banowati dinamai Bakaran Wetan, sedang milik Kek Truno bernama Bakaran Kulon. Di Bakaran Wetan itulah Nyi Banowati membangun pemukiman baru. Sejumlah warga yang semula tidak mau menempati daerah rawa-rawa itu mulai tertarik membangun pemukiman di sekitar rumah Nyi Banowati.

Agar tidak dicurigai orang bahwa ia pemeluk agama Hindu-Buddha, Nyi Banowati mengubah nama menjadi Nyai Ageng Siti Sabirah. Ia juga mendirikan masjid tanpa mihrab yang disebut SIGIT. Di pendopo dan pelataran Sigit itulah Nyi Banowati mengajar warga membatik. Motif batik yang diajarkan Nyi Banowati adalah motif batik Majapahit. Misalnya, sekar jagad, padas gempal, gandrung, magel ati dan limaran.

Bagaimana kemudian Nyi Banowati merancang batik dan membesarkan desa Bakaran sebagai salah satu pusat industri batik kuno di Pati? Baca di sini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *