Pengusaha Batik Belanda di Pekalongan ini Embrio Batik Pekalongan

Banyak catatan sejarah soal batik yang didesain oleh para pengusaha Belanda di Semarang jaman penjajahan dulu. Tapi tak banyak yang tahu bahwa pengusaha Belanda yang menggeluti batik juga tersebar di wilayah lainnya. Siapa saja mereka?

Lien Metzelaar

Lien Metzelaar. Foto: Batik Belanda 1840 – 1940, Hermen C Veldhuisen, Gaya Favorit Press 2007
Lien Metzelaar. Foto: Batik Belanda 1840 – 1940, Hermen C Veldhuisen, Gaya Favorit Press 2007

Metzelaar memulai usaha batiknya di Pekalongan pada tahun 1980 hingga 1916, tepat pada masa keemasan perdagangan batik tulis. Untuk modal usahanya, ia dibantu oleh sorang saudagar batik Arab bernama Baoudjir. Kemudian ia membantu menjualkan batik-batiknya ke Batavia. Sementara untuk penjualan, ia juga dibantu oleh kemenakannya, Lien Antonijs-de Beer, memasarkan batiknya ke wanita kalangan atas Eropa di Pekalongan.

Ia mempelopori penggunaan kepala bermotif bunga-bunga, bukan pasung seperti pada umumnya. Salah satu kepala batik yang terkenal adalah penggunaan gambar bangau, yang kemudian banyak ditiru oleh pembatik lain. Ia juga mempelopori tata letak batik terang bulan.

Ia juga yang menginspirasi munculnya motif buketan yang dibuat oleh Van Zuylen, walau dalam batiknya buketan hanya berupa rangkuman bunga dalam pola sederhana. Ia menandatangani karyanya dengan tulisan “L. Metzelaar Pekalongan”, lalu berganti “L. Metz Pek”.

Lien menjual rumah dan perusahaan batiknya pada tahun 1916. Ia kemudian pindah ke Bandung dan membeli rumah disana. Selanjutnya ia berpindah-pindah ke Yogyakarta dan Surakarta dan meninggal disana pada tahun 1930. Jasadnya dibawa dan dimakamkan di Kota Pekalongan.

Eliza Charlotte (Lies) Van Zuylen

Keluarga Van Zuylen, Lies Van Zuylen wanita besar duduk ditengah. Foto: Batik Belanda 1840 – 1940, Hermen C Veldhuisen, Gaya Favorit Press 2007

Sebernarnya ada 2 nama pembatik dari keluarga Van Zuylen yaitu Christina (Tina) dan Eliza (Lies). Tina adalah kakak dari Lies. Tina yang pertama kali mngikuti pindah ke Pekalongan pada tahun 1885, dan memulai usaha batik, mengikuti sahabatnya disana yaitu Lien Metzelaar.

Lalu Lies Van Zuylen juga mengikuti suaminya, Alphons, Pindah ke Pekalongan pada tahun 1988. Dia kemudian mempelajari usaha batik melalui kakaknya. Tina kemudian pindah lagi ke Kemayoran Kecil pada tahun 1920, dan meninggal dunia pada tahun 1930.

Lies tetap tinggal di Pekalongan meneruskan usaha batiknya. Usaha batik Van Zuylen berkembang pesat, dan ia mampu menaikkan perekonomian keluarga dan pindah ke kawasan yang lebih bergengsi di Heerenstraat, Pekalongan.

Batik Van Zuylen biasa disebut “panselen”. Motif paling popular yang ia ciptakan adalah Buketen, yang berasal dari Bahasa Perancis, Bouquet, yang artinya adalah serangkaian bunga. Biasanya pola buketan disusun berulang pada bagian badan kain.

Pada bagian kepala terkadang menampilkan pola buketan yang berbeda dengan bagian badan. Ia membuat desain buketan, terkadang mengambil referensi dari majalah yang digunting dan diatur letaknya hingga menyerupai buket.

Terkadang ia mencampur bunga musim semi dan bunga musim gugur, bunga dari Indonesia dicampur dengan bunga Belanda. Pencampuran itu menimbulkan kesan keakraban. Karya batiknya menampilkan kombinasi warna yang cantik, dan kerap menampilkan warna pastel yang lembut. Pada akhir masanya, ia juga menampilkan motif buketan dengan gaya pagi sore.

Motif buketan panselen ini banyak ditiru oleh pembatik lain. Pembatik keturunan Tionghoa kerap menampilkan motif buketan. Salah satu perbedaannya, buketan ala tionghoa menampilkan detail yang kompleks baik di ragam hias maupun di latar. Sementara buketan panselen menampilkan latar yang tidak terlalu rumit. Walau demikian, Van Zuylen juga kerap meniru motif-motif batik ala keturunan Tionghoa.

Eliza meninggal dunia akibat diabetes di biara suster ordo Fransiskan, dan dimakamkan di Pekalongan pada tahun 1947.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *