Orang Belanda Ini Jatuh Cinta Akan Batik

Istilah Batik Belanda mengacu pada motif kain batik yang dibuat oleh pengusaha batik orang Eropa ataupun Indo-Eropa di Indonesia. Trend Batik Belanda memunculkan berbagai macam motif menarik seperti Buketan, Kumpeni, dan Dongeng. Selain itu banyak juga yang memunculkan motif geomatris ala kain Sembagi dan Patola dari India, dan motif naturalis.

Periode Batik Belanda dimulai dari pertengahan abad 19 hingga masa pendudukan Jepang (1940-1945). Pada masa itu banyak orang Indo-Eropa maupun asli Belanda yang menjadi pengusaha batik.

Secara umum mereka tidak dapat atau tidak mahir membatik. Mereka membuat desain motif secara umum, kemudian mempekerjakan beberapa pembatik wanita, tukang warna colet dan celup. Berikut ini adalah beberapa pengusaha Batik Belanda.

Carolina Josephina Von Franquemont

Foto: atik Belanda 1840 – 1940, Hermen C Veldhuisen, Gaya Favorit Press 2007
Foto: atik Belanda 1840 – 1940, Hermen C Veldhuisen, Gaya Favorit Press 2007

Von Franquemont adalah seorang Indo-Jerman yang memulai usaha batiknya pada umur 23 di tahun 1840 di Surabaya. Pada Tahun 1845 ia pindah ke Semarang dan membuka perusahaan Batik di tepi sungai lereng Gunung Ungaran. Faktor kemandirian dirinya diperkirakan yang mempengaruhi keputusannya untuk tidak menikah hingga akhir hayatnya.

Batik Von Franquemont biasa disebut batik Prankemonan. Terobosan motif Prankemon yang sangat popular adalah batik dongeng. Batik dongeng menggambarkan cerita-cerita dongeng Eropa maupun non-Eropa, seperti motif putri duyung, Dewi His Hwang.

Catharina Carolina Van Oosterom

Van Oosterom. Foto: Batik Belanda 1840 – 1940, Hermen C Veldhuisen, Gaya Favorit Press 2007

Van Oosterom adalah tetangga Von Franquemont di Ungaran, Semarang. Ia adalah seorang Indo-Belanda yang juga membuka usaha pembatikan. Batiknya dikenal sebagai batik Pastroman. Sekitar sepuluh tahun kemudian, Ia lalu pindah dan meneruskan usaha batiknya di Banyumas.

Terjadi perubahan warna pada batik-batiknya, karena walaupun ia memakai campuran yang sama dengan Ungaran, air dan tanah Banyumas mumpunyai kandungan yang berbeda yang mempengaruhi warna. Karenanya, Batik Pastroman mempunyai warna yang unik. Di Banyumas, ia memberi warna baru pada gaya batik disana yang notabene sangat terpengaruh oleh batik pedalaman.

 

Van Oosterom sering menampilkan motif tentang peristiwa tertentu, seperti misalnya motif gedung opera pertunjukan. Ia juga sering menampilkan corak Eropa pada motifnya seperti Cupido (Dewa Asmara), bunga, dan tandan buah anggur. Ia meninggal pada 11 Januari 1877.

Banyak catatan sejarah yang bercerita tentang para pengusaha batik asal Belanda di Semarang. Hingga batik Semarang pun khas dengan sentuhan Belanda. Nyatanya, pengusaha batik Belanda tidak cuma di Semarang.

Dimana saja mereka tersebar? Baca di sini.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *