Mau Tahu Motif-Motif Batik Khas Lasem? Baca Ini

Batik Lasem bukan dijadikan status sosial layaknya sejarah batik-batik di Jawa. Batik Lasem adalah simbol persatuan, wujud dari akulturasi budaya Tionghoa dengan budaya masyarakat setempat. Selain itu, batik Lasem juga menjadi catatan sejarah kaum tertindas di Rembang saat zaman penjajahan.

Untuk melacak sejarah batik Lasem bukan perkara mudah sebab ahli-ahli sejarah yang menelaah batik Lasem sangat langka. Salah satu sumber sejarah yang menyebutkan tentang awal mula aktivitas pembatikan di Lasem adalah Serat Badra Santi.

Serat ini menyebutkan bahwa pada tahun 1335 Saka (1413 Masehi), salah seorang nakhoda dari armada laut Cheng Ho, Bi Nang Un namanya, mendarat bersama istrinya yang bernama Na Li Ni di pantai Regol, Kadipaten Lasem.

Na Li Ni adalah seorang wanita yang memiliki bakat seni, terutama seni tari dan seni lukis. Ketika  Na Li Ni memulai kehidupannya di Lasem, ia melihat sebagian besar masyarakat Lasem hidup dalam kondisi yang memprihatinkan dan miskin. Dari sinilah ia mulai mengembangkan seni batik Lasem dan mengajarkannya ke masyarakat sekitar di Lasem.

Masyarakat Lasem, baik mereka yang memiliki darah Tionghoa, maupun masyarakat pribumi mengembangkan seni batik ini menjadi beragam motif seperti yang kita bisa temukan saat ini. Berikut ini adalah motif-motif asli Lasem yang masih dipertahankan hingga kini.

Burung Hong

46B24E46-2899-4DCD-BB87-0866F9AB1881

Burung Hong merupakan hewan legenda di kehidupan zaman dahulu. Burung Hong yang juga disebut juga burung Fenghuang ini melambangkan keindahan dan keabadian. Legenda burung Hong juga dikenal di beberapa negara lain. Di Mesir misalnya, dikenal dengan nama

Liong/ Naga

A30256E5-52D7-4073-983D-105A7623D760

Batik Lasem Naga mengintepretasikan harapan-harapan mulia, serta simbolisasi perjalanan spiritualisme. Dalam tradisi Cina, Naga berkaitan erat dengan sumber kekuatan alam. Wajar jika akhirnya Sang Naga selalu melambangkan kekuatan alam yang maha dahsyat layaknya angin taufan.

Bunga Seruni

F0633B37-0936-4C0C-BE8C-D2C87056C487

Motif pada bunga seruni banyak dijumpai pada Batik Tulis Lasem Tiga Negeri, disebut Tiga Negeri karena  memiliki tiga warna khas yaitu merah, biru, dan soga. Warna merah diproduksi di Lasem, warna biru diproduksi di Pekalongan, dan warna soga dikerjakan di Solo. Dengan prosesnya yang rumit dan memakan waktu yang panjang, tidak heran kalau harga Batik Tiga Negeri cukup mahal.

Gunung Ringgit

9D6F3717-6C74-4895-BC6D-85359348A16F

Motif ini awalnya dibuat sebagai doa agar sang pemakai selalu dilimpahi kekayaan, harta yang berlimpah. Selain sebagai harapan, motif ini juga merupakan sentilan atau sindiran untuk orang-orang kaya atau yang ingin kaya. Keindahan harta bisa diawali dari proses pencariannya. Pencarian dan pengumpulan harta yang terindah adalah jika dilakukan dengan cara tidak melanggar hukum, baik hukum agama maupun hukum negara. Setelah mencapai kekayaan, seyogyanya kekayaan yang berlimpah ini digunakan sebaik-baiknya untuk membantu orang yang belum beruntung.

Latohan

E01A7DB9-09C7-4DF0-9F17-C8CE0833049E

Motif latohan berasal dari jenis rumput laut yang banyak ditemukan di kawasan laut Lasem. Latoh termasuk makanan khas Lasem yang bisa dibuat urap sebagai lauk. Bentuknya bulat-bulat kecil seperti anggur.

Kricak (Watu Pecah)

285AA428-93CC-46AC-9389-915D7E968E01

Motif watu pecah, atau dalam bahasa Indonesia berarti batu yang pecah ini yang menjadi primadona adalah motif yang berasal dari sejarah kelam Lasem, yakni saat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membuat jalan raya po pada abad ke-18. Saat itu para buruh kerja paksa tidak dibayar. Buruh dipaksa memecah batu besar-besar menjadi kricak sebagai bahan pengeras jalan. Banyak pekerja menderita penyakit malaria, influenza, serta kelaparan. Amarah warga sekitar itu diekspresikan menjadi salah satu motif batik. Itulah motif watu pecah .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *