Apa Itu Batik Kawung?

Jika anda pecinta batik, tentu sudah tidak asing dengan motif batik kawung. Namun, tidak ada salahnya jika kita coba menggali lebih jauh seluk beluk motif batik tertua di Indonesia ini.

Sekitar abad ke-13, motif batik kawung diciptakan oleh Sultan Mataram dan digunakan pada kalangan terbatas saja, yakni lingkungan kerajaan oleh para pejabat. Harapannya, dengan menggunakan batik ini, para pejabat kerajaan dapat menjadi pemimpin yang menjaga keseimbangan antara hawa nafsu dan hati nurani.

Namun, begitu kerajaan Mataram terbagi dua menjadi Surakarta dan Yogyakarta, penggunaan batik kawung mengalami perubahan. Di Surakarta, batik kawung hanya bisa digunakan oleh punakawan dan abdi dalem jajar priyantaka. Sementara di Yogyakarta, kalangan yang wajib menggunakan batik ini adalah sentana dalem.

Batik kawung sendiri memiliki pola berbentuk irisan buah kawung atau kolang-kaling. Dalam masyarakat Jawa, makna dari pola tersebut mengajarkan bahwa kebaikan hati cukup diketahui diri sendiri dan orang lain tidak perlu tahu. Selain itu, motif batik kawung juga bisa dilihat sebagai bentuk bunga teratai. Empat lembar kelopak bunga teratai tersebut melambangkan kesucian dan umur panjang.

Berdasarkan ukuran motif, terdapat tiga jenis batik kawung, yaitu kawung picis, kaung bribil, dan kawung sen. Kawung picis berpola bulatan kecil seukuran uang pecahan 10 sen. Sementara itu, kawung bribil berpola bulatan yang ukurannya lebih besar, layaknya uang pecahan 25 sen. Sedangkan kawung sen bermotif bulat lonjong seukuran uang pecahan 1 sen.

Mengenai proses pewarnaannya, batik kawung tidak terbatas pada tiga warna saja, tetapi juga berdasarkan bentuk filosofisnya. Hal ini berhubungan dengan tiap arah mata angin yang memiliki perlambang warna “sakti”.

Bagaimana masyarakat Jawa memaknai tiap warna dalam batik Kawung ini? Baca selanjutnya di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *