mendengar kata batik, pasti diidentikkan dengan 3 daerah yaitu Pekalongan, Surakarta, dan Yogyakarta. Tetapi ternyata ada sebuah daerah yang letaknya masih di Provinsi Jawa Tengah mempunyai warisan batik tulis yang cukup berbeda SEJARAH DAN FILOSOFI MOTIF BATIK TULIS LASEM

Jika kita mendengar kata batik, pasti diidentikkan dengan 3 daerah yaitu Pekalongan, Surakarta, dan Yogyakarta. Tetapi ternyata ada sebuah daerah yang letaknya masih di Provinsi Jawa Tengah mempunyai warisan batik tulis yang cukup berbeda dengan

batik dari daerah lain. Batik Tulis Lasem namanya, Batik Tulis Lasem adalah wujud

dari akulturasu budaya antara budaya Tionghoa denagn budaya lokal (Lasem).

Lasem adalah sebuah kecamatan yang berada di kabupaten Rembang berjarak

±130 km ke timur dari Semarang. Bila berbicara tentang Lasem hal pertama yang

terlintas di fikiran kita adalah peninggalan bangunan – banguan dari nengara

Tionghoa. Tidak dapat kita pungkiri bahwa di pusat kota Lasem sangat banyak

peninggalan banguan – banguan yang bergaya Eropa dengan percampuran

Tionghoa, hal itu dapat terlihat pada pilat – pilar besar yang memberikan ciri khas

dari rumah bergaya Eropa,sedangkan kebudayaan Tionghoa dapat dilihat pada atap

yang meruncing di bagian kiri dan kanan.

E055D2C1-0516-4140-9D62-580D3A913C9D.jpg

Rumah Peninggalan Tionghoa [1]

Karena masih banyak sekali rumah – rumah Tionghoa sehingga pada tahun 2002

Lasem terpilih sebagai salah satu lokasi pengambilan shooting film Ca Bau Kan

yang dibintangi oleh Ferry Salim. Sedangkan bila kita berbicara tentang Batik Tulis

Lasem, motif yang terkandung di dalamnya masih sangat berkaitan dengan

kebudayaan Tionghoa, karena pencetus pembuatan motif batik lasem adalah

seorang wanita berkebangsaan Tionghoa yang saat itu ikut berlayar bersama

suaminya dan mendarat di Lasem.

A. SEJARAH BATIK TULIS LASEM.

Untuk melacak sejarah batik Lasem sangat sulit dilakukan karena ahli-ahli sejarah

yang menelaah batik Lasem sangat langka. Salah satu sumber sejarah yang

menyebutkan tentang awal mula dilakukan pembatikan di Lasem adalah Serat Badra

Santi [2], yang menyebutkan bahwa pada tahun 1335 Saka (1413 Masehi),  salah

seorang nakhoda dari armada laut Cheng Ho yang bernama Bi Nang Un mendarat

bersama istrinya yang bernama Na Li Ni di pantai Regol Kadipaten Lasem yang

sekarang disebut sebagai pantai Binangun. Bi Nang Un adalah seorang nakhoda

yang berasal dari Campa  (Indocina) yang saat itu menjadi wilayah kekuasaan

Dinasti Ming.

Na Li Ni adalah seorang wanita yang memiliki bakat seni terutama seni tari dan seni

batik. Ketika  Putri Na Li Ni memulai kehidupannya di Lasem, ia melihat sebagian

besar masyarakat Lasem hidup dalam kondisi yang memprihatinkan dan miskin. Na

Li Ni berupaya memperbaiki kehidupan masyarakat dengan cara mengajarkan seni

membatik dan seni tari kepada putra-putrinya serta para gadis di Taman Banjar Mlati

Kemadhung. Putri Na Li Ni juga mulai mengembangkan seni batik dengan metode

dan motif yang lebih bervariasi, dengan tujuan untuk meningkatkan ekonomi

masyarakat Lasem. Dalam perkembangan kemudian, masyarakat Lasem terutama

masyarakat keturunan Cina banyak yang menjadi pengusaha batik [3].

Motif – motif yang dibuat oleh Na Li Ni diantaranya adalah ornamen burung hong,

liong (naga), bunga seruni, banji dan mata uang. Warna favoritnya adalah merah

darah ayam khas Tiong Hoa. Motif dengan warna geteh pitik tersebut akhirnya

menjadi ciri khas unik Batik Tulis Lasem. Karena keunikan inilah Batik Tulis Lasem

mendapat tempat penting di dunia perdagangan. Bahkan di awal abad ke 19 Batik

Tulis Lasem sempat diekspor ke manca negara seperti Thailand dan Suriname.

Karena Batik Tulis Lasem semakin diminati pada masa itu, sehingga mendorong

para perajin Batik untuk menciptakan motif baru. Motif – motif baru itu seperti

latohan, gunung ringgit, kricakan (watu pech bermunculan) yang merupakan motif

dari penduduk pribumi. Salah seorang perajin Batik Tulis Lasem yang bernama

Syahdan menciptakan motif kricak, beliau terinspirasi dari penderitaan rakyat saat

harus memecah batu – batu besar untuk dibuat jalan raya (kini jalan pantura) atas

perintah Daendels.

Batik Tulis lasem menorehkan catatan emas hingga menjelang berakhirnya

penjajahan kolonial Belanda. Para pengusaha Batik Tulis Lasem yang berasal dari

kalangan Tionghoa mendapatkan tempat istimewa di penduduk pribumi karena

membuka banyak lapangan kerja. Masa kejayaan batik yang menjadi ikon

pembauran budaya Jawa dan Cina itu mulai menyurut pada tahun 1950-an.

Penyebab utama kemunduran Batik Tulis Lasem adalah karena terdesak oleh

maraknya Batik Cap dari berbagai daerah. Selain itu juga dikarenakan kondisi politik

yang menyudutkan etnis Tionghoa yang merupakan penguasa perdagangan Batilk

Tulis Lasem[4].

Menurut data Forum Economic Development (Fedep) Rembang, tahun 1950-an

ada sekitar 140 pengusaha Batik Tulis Lasem. Tahun 1970-an jumlahnya merosot

hingga tinggal separo, dan yang paling mengenaskan pada tanun 1980-an

jumlahnya tinggal 7 orang saja. Selanjutnya perkembangan Batik Tulis Lasem terus

mengalami pasang surut.

B. MOTIF BATIK TULIS LASEM DAN FILOSOFINYA.

1. Burung Hong

Burung Hong merupakan hewan legenda di kehidupan zaman dahulu. Burung Hong

disebut juga burung Fenghuang. Feng sebutan untuk spesies jantan, sedangkan

Huang sebutan untuk betina. Burung Hong menjadi hewan legendaris kedua setelah

naga. Biasanya, burung Hong disandingkan bersama naga. Ini melambangkan

keindahan dan keabadian. Legenda burung Hong juga dikenal di beberapa negara

lain. Di Mesir misalnya, dikenal dengan nama burung Phoenix. Dalam mitologi Mesir,

burung Phoenix memiliki arti keabadian, lambang siklus kehidupan setelah mati dan

simbol dari kebangkitan tubuh setelah mati.

Jika dilihat sekilas, burung Hong mempunyai bentuk seperti burung Merak. Bulu

burung Hong memiliki beberapa warna dan terlihat sangat indah. Dari kebanyakan

lukisan atau motif yang menggambarkan burung Hong, burung ini mempunyai

bentuk yang bercampur antara beberapa jenis hewan unggas, namun satu yang

pasti adalah, burung Hong selalu terlihat berwibawa dan anggun di setiap goresan

bentuknya. Dari sinilah orang Tiong Hoa percaya bahwa simbol kebahagiaan lekat

dengan keberadaan burung Hong.

Mitos burung Hong sangat lekat dengan kehidupan warga Tiong Hoa. Burung Hong

sering dijadikan sebagai hiasan pada dekorasi pernikahan, yang biasanya

disandingkan bersama hewan Naga. Mereka percaya bahwa dalam mitologi Cina,

jika burung Hong dipasangkan dengan Naga, dapat menjadi simbol hubungan mesra

antara suami dan istri. Permaisuri Kaisar Cina dan putri-putri istana pun turut

menggunakan burung Hong sebagai motif utama di pakaian untuk perayaan hari

besar Cina[5].

46B24E46-2899-4DCD-BB87-0866F9AB1881.jpg

Motif Burung Hong [6]

2. Liong/ Naga

Batik Lasem tidak bisa lepas dari invansi makhluk mitologi bernama naga. The

Dragon selalu datang, meliuk dalam ornamen utama motif Batik Lasem. Keberadaan

ular raksasa ganas ini tidak membahayakan. Sang Naga justru memoncerkan

eleganitas keindahan Batik Lasem. Ornamen Naga menjadi bagian penting dari

keanekaragaman motif Batik Lasem, karena eksotismenya mampu memperkokoh

ekesitensi Batik Lasem. Terbukti, Batik Lasem Naga, khususnya batik lawas/batik

kuno, menjadi salah satu motif batik pesisiran yang diburu kolektor batik art. Batik

Lasem Naga memiliki karakteristik yang berbeda dengan batik naga dari daerah lain.

Dari detail ornament The Dragons, tampak jelas, Batik Lasem Naga sangat

orientalis. Tampilan naga dengan tanduk, sungut, dan cakar, menandakan Liong

atau Lung begitu dominatif. Dominasi Liong dipertegas stailisasi Kilin yang bersuka

ria memperebutkan bola api di tumpal. Isen-isen Phoenix atau Burung Hong yang

bersimbiosis dengan aneka flora semakin memperdalam eksistensi Lung dalam

ragam hias Batik Lasem. Filosofisasi Liong dalam Batik Lasem tidak bisa dipungkiri.

Selain sarat nilai seni yang tinggi, Batik Lasem Naga diintepretasikan sebagai

refleksi harapan-harapan mulia, serta simbolisasi perjalanan spiritualisme. Dalam

tradisi Cina, Naga berkaitan erat dengan sumber kekuatan alam. Wajar jika akhirnya

Sang Naga selalu melambangkan kekuatan alam yang maha dahsyat layaknya

angin taufan. Tidak hanya itu, Naga juga dipersonifikasi sebagai penjelmaan roh

orang suci yang belum bisa masuk surga. Roh orang suci menjelma menjadi Naga

kecil yang masuk ke bumi untuk tidur dan meditasi dalam waktu lama. Setelah tubuh

tumbuh membesar, Naga bangun, bangkit, dan terbang ke surga. Warna Naga juga

bermakna filosofis. Naga Merah, Naga Biru, Naga Putih, hingga mencapai Naga

Emas, merupakan simbolisasi stratifikasi spritualisme. Perbedaan warna naga

bermakna perjalanan langkah demi langkah menuju nirwana. Namun, Batik Lasem

Naga tetaplah multi tafsir. Stailisasi dan visualisasi Naga dalam ornamen utama

motif Batik Lasem selalu terbuka bagi tumbuh berkembangnya intepretasi lintas

tradisi[7]

A30256E5-52D7-4073-983D-105A7623D760.jpg

Motif Liong/ Naga [8].

3. . Bunga Seruni

Motif pada bunga seruni banyak dijumpai pada Batik Tulis Lasem Tiga Negeri,

disebut Tiga Negeri karena  memiliki tiga warna khas yaitu merah, biru, dan soga.

Warna merah diproduksi di Lasem, warna biru diproduksi di Pekalongan dan warna

soga dikerjakan di Solo. Dengan prosesnya yang rumit dan memakan waktu yang

panjang, tidak heran kalau harga Batik Tiga Negeri cukup mahal. Untuk pecinta

batik, semakin antik batiknya maka semakin diburu.

F0633B37-0936-4C0C-BE8C-D2C87056C487.jpg

Motif Bunga Seruni

4. Gunung Ringgit

Selain sarat nilai artistik, batik tulis Lasem Gunung Ringgit juga bermakna filosofi.

Dari subtansi namanya, Batik Tulis Lasem Gunung Ringgit selalu menggiringi

imajinasi ke ranah kekayaan, uang atau harta yang berlimpah/ menggunung. Bisa

jadi, ide awal dari penciptaan motif Batik Tulis Lasem Gunung Ringgit adalah refleksi

dari asa untuk menjadi kaya raya atau memiliki harta melimpah.

Lumrah jika hasrat untuk menjadi kaya selalu hinggap di benak kebanyakan orang.

Bukankah tingkat kemakmuran selalu identik dengan memiliki banyak harta?.

Namun batik Lasem Ringgit bisa juga merupakan sentilan atau sindiran untuk orang

– orang kaya atau yang ingin kaya.

Sah – sah saja memiliki harta menggunung, tetapi jadikan harta yang melimpah

menjadi sesuai keindahan hakiki. Keindahan harta bisa diawali dari proses

pencariannya. Pencarian dan pengumpulan harta yang terindah adalah jika

dilakukan dengan cara tidak melanggar hukum, baik hukum agama maupun hukum

negara.

Harta yang diperoleh dengan cara yang halal adalah esensi dari keindahan

kekayaan, dan keindahan harta semakin absolute jika selalu digunakan untuk

kebenaran dan kebaikan umat serta alam semesta[4].

9D6F3717-6C74-4895-BC6D-85359348A16F.jpg

Motif Gunung Ringgit [9]

5. Latohan

Motif latohan berasal dari jenis rumput laut yang banyak ditemukan di kawasan laut

Lasem. Latoh termasuk makanan khas Lasem yang bisa dibuat urap sebagai lauk.

Bentuknya bulat-bulat kecil seperti anggur [10].

E01A7DB9-09C7-4DF0-9F17-C8CE0833049E.jpg

Motif Latohan

6. Kricak (Watu Pecah)

Motif watu pecah yang menjadi primadona adalah motif yang berasal dari sejarah

kelam Lasem, yakni saat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membuat

jalan raya pos (Jalan Daendels) pada abad ke-18. Jalan itu juga membelah Lasem,

sehingga Bupati Rembang saat itu memerintah para buruh membuat jalan sesuai

dengan perintah Gubernur Jenderal. Saat itu para buruh kerja paksa tidak dibayar.

Buruh dipaksa memecah batu besar-besar menjadi kricak sebagai bahan pengeras

jalan. Banyak pekerja menderita penyakit malaria, influenza, serta kelaparan.

Amarah warga sekitar itu diekspresikan menjadi salah satu motif batik.

Itulah motif watu pecah [10].

285AA428-93CC-46AC-9389-915D7E968E01.jpg

Motif Watu Pecah/ Kricak [11]

Daftar Pustaka

[1] kekunaan.blogspot.com

[2] serat badra santr

[3] berita3Rembang. WordPress.com

[4] www.lasembatikart.com

[5] satulinggar.com

[6] studioantik.blogspot.com

[7] batiktulislasem.com

[8] vastrabatik.com

[9] rumahukm.com

[10] kompasiana.com

[11] beningstore.com

[12] pena3emas.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *